Tiga Puisi Hasil AI tentang Menjaga Tradisi

Upacara di Tenggorokan Waktu
Kami berkumpul di bawah menara jam tua,
membacakan doa dari daun yang sudah terbakar.
Lidah kami melilit pada mantra,
berharap suara leluhur bisa kembali menitis
dalam retakan genting rumah yang hampir roboh.
Seekor kucing hitam lewat, membawa dupa di giginya,
mengibaskan ekor seperti bendera perang.
Kami tunduk —
karena siapa tahu, ia jelmaan masa lalu
yang menolak dikubur oleh kalender.
Perjamuan di Meja Batu Leluhur
Di meja itu, darah ayam menulis puisi sendiri,
tentang desa yang menukar gamelan
dengan nada notifikasi.
Kami makan dengan jari yang tak lagi suci,
menyantap kenangan yang diasap oleh modernitas.
Tiba-tiba, piring berbisik:
“Setiap sendok nasi adalah perjanjian.”
Aku menelan kalimat itu perlahan,
agar tak ada saksi
selain bayangan sendiri di mangkuk kosong.
Patung yang Menolak Pulang
Di tengah alun-alun, patung kakek menatap langit,
matanya diukir dari cermin tua.
Ia menunggu generasi yang paham
bahwa menjaga tradisi
kadang berarti menahan diri untuk tidak menangis.
Suatu malam, petir memeluknya,
dan suaranya terdengar di radio kusam:
“Jangan jaga aku seperti barang museum,
jagalah seperti luka —
yang tak sembuh, tapi diajarkan pada anak cucu.”
Note: Tulisan di atas dibuat menggunakan Artificial Intellegence (AI).